DIA

By PADLI PRIJAN - Agustus 07, 2018


Orang Indonesia (meskipun tidak semua) tetapi masih ada yang haus pujian, kalau bisa dialah yang terhebat, terbaik dan berada di level tertinggi di antara yang lain. Itu fakta dan saya sudah melihatnya sendiri.

Akhir-akhir ini ketemu lagi dengan karakter manusia yang selalu ingin disanjung, yang satu ini lumayan berbeda karena cenderung menghambat orang lain untuk berkembang. Bertemu orang seperti ini sering kali membuat geram. Apalagi kalau sudah ada "judge" yang tidak tanggung-tanggung membuat kita seperti titik terkecil di antara orang-orang yang tidak diperhitungkannya. Menghadapinya perlu mental yang kuat dan strategi yang baik.

Saya teringat sebuah kalimat, "belajar itu tiada batasnya, dari mana atau kepada siapa pun tak ada larangan selagi itu baik". Nah, anyway... hidup di jaman sekarang tentu saja kamu harus tetap pintar-pintar memilih orang. Mengapa?, jangan sampai ilmunya benar tetapi caranya salah, karena yang namanya salah akan tetap salah.

Merasa Senior
Dalam pergaulan (baca sosialisasi) istilah senior terjemahannya bisa berbeda-beda. Sepuluh tahun yang lalu saat masih di universitas,  saya tahu betul bagaimana rasanya berada di bawah tekanan istilah ini. Tetapi di dunia kerja atau kelompok profesi, saya mendapati terjemahan berbeda meskipun esensinya hampir sama, "orang lama" atau jam terbangnya lebih tinggi, sehingga perlu dihormati dan disegani.

Dalam kesempatan diskusi di sebuah cafe, dia sebagai orang yang selalu bangga dengan senioritasnya memberikan wejangan sekaligus membagi pengalaman. Disini saya sadar orang ini tidak bisa dijadikan contoh, karena tidak bisa menerima pendapat orang lain. Sedikit -  sedikit "kau tahu dari mana?", "kau belajar dari siapa?", "kalau bodoh tidak usah banyak omong".  Oke fix telinga wajan mode on kawan-kawan...

Saya benar-benar tertantang untuk lebih tuli dari telinga wajan kalau mendengar ocehan orang ini. Di sela-sela obrolan dia bilang begini... "setinggi apa kau punya sekolah?,  lima lantai, tujuh lantai?. Coba kau panggil itu yang dari sekolah suruh hidupkan engine yang rusak,  pasti tidak bisa. Tapi kau bawa itu orang bengkel kemari pasti bisa dia buat hidup".

"Aku heran sama WIRA (nama operator di Bintan Mangrove), berani bayar dia mahal (nunjuk saya tapi muka nengok yang lain) padahal tak tahu belajar kat mana,  gurunya pun siapa tak jelas"

"Ya belajar di sekolah lah Pak ***, jawab saya. Responnya "memangnya sekolahmu tahu tempat kat sini".

Sekolah saya memang jauh di seberang sana, tapi percuma saya kuliah hampir tujuh tahun bangun pagi ngejar kelas ekologi. Saya mengerti predikat itu (senior) sesuatu yang harus dibayar mahal (bayarin kopinya). Tetapi dunia hari ini sudah terlalu maju untuk bertahan dengan cara-cara konservatif. Pengetahuan, wawasan dan kemampuan orang yang lebih muda belum tentu lebih baik dari kalian yang lebih tua.  Bukan berarti meremehkan atau tidak punya rasa hormat dan segan,  sorry...

Guru

Salah satu alasan mengapa dia tidak merambah dunia bisnis wisata adalah karena dia harus menjadi seorang guru, bila guru tidak ada maka tamatlah dunia kami. Kira-kira begitu maksud pernyataannya malam itu. Memang ada benarnya, kalau yang bicara seperti itu adalah orang yang jelas latarbelakang karir pendidikannya, dan tentu saja juga didukung dengan sikap dan tatakrama yang baik. 

Suatu hari dalam grup chat dia mengirim sebuah gambar berisi filosofi kehidupan dari Afrika sana,  "Ubuntu,  I am becuse you are".  Mungkin maksud dia mau mengingatkan kalau kita perlu menjaga kebersamaan. Iya, berangkat dari filosofi itu.

Maksud hati ingin bercanda,  tapi tiba-tiba dia mengirimi saya pesan pribadi dan membaca isinya lumayan membuat urat keriting sampai di kepala.



"kalau bodoh mau aku ajarkan, tapi kalau sok pintar pergi sana ikut +@&)$#%: (almarhumah)". Almarhumah yang saya kenal betul bagaimana orangnya. Dia adalah seorang Ibu yang belum genap sepuluh hari meninggal dunia...

Tuan oh tuan...  berhentilah menganggap dirimu guru. Etikamu tidak cukup baik...

Prototipe
Dia sangat terobsesi menjadi panutan, sayang metode mengajarnya tidak bisa saya terima. Cara berpikir orang ini mengingatkan saya pada sebuah istilah, "Pendidikan Gaya Bank". Menganggap orang lain tidak tahu apa-apa atau Ibarat kaleng-kaleng kosong yang perlu diisi, tapi sesuai keinginannya. Dia Menggurui, membagi tahu dan berharap orang lain sama persis dengan dirinya, baik itu tutur, maupun gestur.

Merasa diri sebagai role model, tidak jarang juga dia mengungkit-ungkit. Misalnya si "anu" bisa seperti itu (pencapaian) adalah berkat dirinya, lalu cerita itu akan menyebar kemana-mana. Dia tidak menyadari kalau sebenarnya telah membangun batasan-batasan bagi orang lain untuk hidup sesuai caranya sendiri. 

Teringat masa SD ketika guru menanyakan cita-cita. "Anak-anak kalau besar nanti mau jadi apa?". Saat itu bisa iya, bisa juga tidak sang guru berharap bakalan ada murid yang ingin seperti dirinya. Tapi sejatinya guru tidak pernah menciptakan prototipe dirinya sendiri. 

Beruntung di lingkungan tempat saya tinggal dan bekerja masih ada orang yang lebih baik, berbagi hal-hal positif, bermanfaat dan tidak pernah merasa sebagai guru, apalagi menunjuk diri sebagai hero. 

Sekian...


  • Share:

You Might Also Like

13 komentar

  1. Meski pun ku tak mengenal guru hebat yang merasa diatas angin itu. Kudoakan semoga dia bisa sadar dr perkataan org lain. Karena saat berpulang, bukan ditanya dimana sekolahnya? siapa gurunya, tapi amal ibadah apa yg telah dilakukan di dunia.
    Tulisannya bagus, semoga secara tak sengaja ia membacanya.

    BalasHapus
  2. Wah, memang berbagai karakter orang yang kita jumpai membuat kita semakin bijak juga dalam bersikap dan berteman ya akak

    BalasHapus
  3. Ya Alloh.
    Amit-amit ketemu manusia tipe ini.

    Kalau saya tidak akan kuat mendengar ocehannya lama.
    paling langsung angkat kaki dan pergi.
    BHAY !
    Hahahaha

    BalasHapus
  4. Orang seperti itu pasti selalu ada. Jadi kita yang mesti pandai bersikap. Tapi kalo sudah merendah martabat kita untuk meninggikan dirinya, lawan :)

    BalasHapus
  5. Saya juga haus akan pujian, pujian jika bisa menghasilkan karya yang baik dan berguna

    BalasHapus
  6. " tertantang untuk lebih tuli dari telinga wajan kalau mendengar ocehan orang ini" aku suka dengan kalimat ini kadang kita harus diam mendengar ocehan yang tak tahu arahnya

    BalasHapus
  7. Orang seperti 'dia' itu bagusnya sih dicuekin aja. Orang kayak gitu seperti dementor, yang bisa menghisap habis aura positif dan kebahagiaan orang-orang di sekitarnya.

    BalasHapus
  8. Catatan banget, sesuatu yang benar tapi dilakukan dengan cara yang salah = SIA-SIA.
    Tulisan ini bgs bgt untuk kita ambil pelajaran...

    BalasHapus
  9. wah ... seru juga nih tulisan nya
    semoga siapapun yang membaca bisa mengambil intisari terbaik dari pelajaran etika dan tata krama yang baik

    karena manusia tidak ada yang sempurna, akan lebih baik bila tidak menganggap dirinya sebagai orang yang paling sempurna

    yang mengakibatkan tidak semua orang akan suka dengan kita

    cermin itu nyata kawan

    aw

    BalasHapus
  10. "..orang yang lebih baik, berbagi hal-hal positif, bermanfaat dan tidak pernah merasa sebagai guru, apalagi menunjuk diri sebagai hero."

    ini nih, paling penting. kalo ketemu orang yang ga penting, tinggal aja. Not worth our time!

    BalasHapus
  11. hahahaha macam-macam karakternya ya bang, mantap nih artikelnya bang membuka wawasan pastinya

    BalasHapus
  12. di-iya-kan saja, pak, apa katanya. daripada beradu urat leher bikin sakit kepala. hehe

    BalasHapus
  13. makanya dari jaman sekolah dan kuliah menentang perploncoan dan senioritas. nah di dunia blogging gua juga nggak terlalu suka kalau ada yang bilang suhu, lalu bilang blogger remah rengginang.

    kalau di dunia kerja banyak sih tapi anggep slow aja, kalau kita ikut2an kenceng rugi di kita

    BalasHapus