Morning Journey - Awal Pekan Bersama Kawano

By Prijanuary Jan - Juli 16, 2018



Pagi ini saya baru saja mematikan alarm terakhir, tiba-tiba mendapat panggilan telpon dari @mangrovetours, diminta untuk mengisi posisi tour guide yang berhalangan hadir. Sementara nyawa saya baru terkumpul 75%, sisanya masih tertinggal dalam bayang-bayang babak final piala dunia, dimana Kroasia sebagai runner-up berhasil memenangkan banyak hati penggemar sepakbola. Kkkkk...

Sepedaku bermesin Yamaha 135 cc, kupacu melintasi jalan yang setengah becek dan merah. Ini adalah akses terdekat menuju tepi sungai, jaraknya sekitar 2,4 kilometer atau 10 menit dari rumah. Seperti biasa, setiba di tempat penjemputan kapten boat akan menyambut saya dengan sodoran life jacket. Makan baaaang...!!! Hehe.... Dari sini saya dan kapten butuh 2-3 menit lagi untuk sampai di jetty Bintan Mangrove menggunakan boat.


Sesuai schedule trip pertama dimulai pukul 09.00 WIB. Sudah ada dua orang melakukan reservasi, ditemani seorang driver yang menjemput mereka dari hotel. Mereka datang terlalu cepat (08.26 WIB), jam yang seharusnya mereka masih duduk manis di lobby hotel. Luar biasa, hanya mereka turis pagi ini.


Setelah menyelesaikan reservasi, waktunya memberi arahan, penggunaan jaket keselamatan dan informasi rute tur sesuai guide map. Kusapa mereka dengan "halo, good morning..." eh dijawab "haaii'... (sedikit menundukkan kepala dan badan) good morning", jelas sudah dari mana mereka berasal. Memulai hari dengan orang Jepang itu baik untuk kesehatan, senyum mereka sangat ikhlas dan respeknya luar biasa, manjur untuk memulihkan pandangan yang sedikit berkunang-kunang akibat begadang.

Kawano dan Sho, di Jepang mereka tinggal di Kota Tokyo. Rencananya akan menghabiskan tiga hari di Bintan Resorts. Pagi-pagi sudah melarikan diri ke mangrove yang menurutnya 'must visited place' rekomendasi rekannya yang tinggal di Okinawa, beberapa hari lalu mereka membicarakannya ketika bertemu di Singapura.


Mendengarnya saya memiliki firasat berbeda, apalagi waktu mereka sibuk motret sana sini di Jetty. Dugaan saya tidak terlalu meleset, mereka punya ketertarikan terhadap alam, bukan turis yang datang menghabiskan waktu dan uang atau bosan di hotel saja. Selama perjalanan mereka tampak memperhatikan laju arus, daun-daun yang hanyut dan beberapa pemandangan sampah plastik yang mengganggu. Pertanyaan - pertanyaan yang mereka berikan juga sambung menyambung seperti lagu dari sabang sampai merauke, hehe....

Ketika memasuki anak sungai, mereka sempat terdiam beberapa saat. Kedalaman air semakin dangkal dan barisan pohon mangrove kelihatan semakin tinggi. Melihat sistem akar yang padat dan ranting mangrove yang menjuntai katanya sih dia (Kawano) membayangkan suatu tempat, antara nyata dan tidak. Masih tidak percaya dia bisa sampai ke hutan seperti ini, semenjak dia bekerja waktu liburannya ke luar negeri semakin sedikit, "Tokyo kota sibuk" katanya...


Ada empat jenis pohon mangrove yang mendominasi disini, mereka dikenal berdasarkan akarnya (Akar tancap, Akar Pensil, Akar Pita dan Akar Lutut). Biasanya beberapa spesies  hewani seperti burung, mamalia, reptil dan hewan air muncul disekitar. Tapi saya berpikir mungkin kami tidak beruntung, karena tidak menemukan binatang yang mereka cari, yaitu さる Saru, alias monyet dan "トカゲ= tokage, alias biawak seperti yang mereka tunjuk gambarnya di guide map sebelum berangkat.

Kami tidak bisa mencapai ujung di anak sungai ini karena terlalu dangkal, sehingga harus berbalik arah dan berpindah ke anak sungai yang lain. Di perjalanan tiba-tiba seekor burung raja udang  (king fisher) terbang laju di hadapan kami, cukup mengejutkan dan membuat mereka bertepuk tangan.

"Sugoi...", ungkapan yang diucapkan orang Jepang ketika mengagumi sesuatu. Huh.. lega rasanya, saya pikir perjalanan ini akan sedikit mengecewakan.

Di anak sungai yang kedua, kami disambut oleh seekor tupai, suaranya nyaring, sayang jaraknya cukup tinggi di atas pohon. Kami juga mencoba  mengeksplorasi satu jenis pohon dan tumbuhan unik. Pertama, Xylocarpus Granatum atau bakau merah, memiliki buah yang bulat seperti bola dan berwarna kecoklatan. Getahnya berwarna merah dan juga coklat, sering digunakan untuk membuat tinta dan di indonesia umumnya dimanfaatkan untuk melukis batik. Kedua, masyarakat setempat menyebutnya "daun jeruk" (lupa nama latinnya), memiliki aroma seperti jeruk atau lemon yang dipercaya sebagai penangkal nyamuk.


Sama seperti di anak sungai sebelumnya, kami juga tidak bisa sampai ke ujung. Di arah perjalanan keluar terlihat seorang nelayan yang sedang mendayung berhadapan dengan kami.  Ia pun tidak keberatan ketika saya meminta untuk mendekat dan menunjukkan hasil tangkapannya. Wow.. ikan-ikan dalam embernya masih hidup, Ia belum lama menangkapnya.

Kapten kami yang duduk di belakang penasaran, lalu bertanya "kira-kira kalau dijual harganya berapa satu kilo?", satu kilo Rp.#@%?#!&^ jawab bapak nelayan. Seandainya kapten membawa dompet, pasti laris amis ikannya Pak.

"Sepertinya dia akan pulang, apa di sekitar sungai ini ada pasar?" tanya Kawano. Sekitar 30 meter dari tempat kami berhenti memang terdapat bekas penambatan sampan nelayan dan disana juga terlihat beberapa potongan kayu dan rangka bubu yang rusak berjejer. Mungkin Kawano mengira nelayan itu akan ke darat lewat sana.

Keluar dari anak sungai kami disambut oleh air pasang dan terik matahari, tidak ada lagi pelindung kepala yang hijau dan sejuk seperti di dalam. Hutan Mangrove itu seperti "Meeting Point of Contradiction", salah satu lingkungan yang paling komplit di muka bumi dimana beberapa hal yang kontradiksi bertemu dalam satu tempat. Terik, sejuk, pasang dan surut bisa disaksikan dalam waktu yang cukup singkat.


Waktu kami hampir habis dan harus segera kembali ke jetty mangrove. Dalam perjalanan pulang Kawano sedikit bercerita, waktu sekolah dia senang membaca buku, mempelajari ekologi, sering berkunjung ke pusat rehabilitasi hewan dan tumbuhan, dan Okinawa adalah salah satu tempat liburan favorit keluarganya di Jepang saat musim panas.


Sekian...

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar