Asmara dari Laut Sulawesi

By Prijanuary Jan - Juli 10, 2018



Malang melintang di dunia yang semakin hari semakin panas membuat konsentrasi menjadi tidak terarah. Interaksi dengan lingkungan sekitar pun menjadi tidak sedap, beberapa kali mencoba menulis tapi terhenti sampai draft. Sepertinya perlu (l)hiburan....

Sebenarnya saya ingin sekali berjalan jauh, menyambangi banyak tempat dan menulisnya di blog, tapi butuh waktu yang tepat dan itu bukan sekarang. Jadi, tidak ada salahnya mengurai sisa dokumentasi beberapa tahun lalu disini.

Hidup damai tanpa ada rasa cemas adalah hal yang cukup rumit ditemukan saat kamu tinggal di daerah yang relatif padat penduduk dan ketat persaingan. Oleh karena itu, merangkai mimpi adalah salah satu energi untuk bertahan. Itulah yang saya rasakan ketika masih tinggal di Kota Makassar.

"Mencari Inspirasi" adalah kalimat sakti yang sering saya keluarkan ketika ditanya "mau kemana?". Pantai menjadi tempat favorit bagi saya saat itu dan tidak jarang saya memacu kendaraan berkilo-kilometer dari kota menuju sebuah desa dimana nelayan sering menghabiskan sore di pantai.

Tamalate, desa yang terletak di Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, sekitar 27 kilometer dari tempat tinggal saya. Disana saya bertemu seorang nelayan bernama Daeng Se're, menjadi kawan akrab dan tidak pernah bosan menceritakan kisahnya tentang laut, nelayan dan lingkungan sekitarnya.

Berangkat sore pulang pagi atau berangkat subuh pulang sore adalah jam operasional yang umum digunakan nelayan. Itulah mengapa nelayan sering melewatkan banyak kegiatan sosial di darat. 


Nelayan seperti Daeng Se're melaut secara berkelompok, dia dan anggotanya sering kali menghabiskan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu, karena daerah penangkapan mereka yang jauh. Mereka adalah nelayan 'Pa Rengge' atau 'Pa Gae' yang beroperasi menggunakan perahu motor, beranggotakan 15 - 18 orang dan menggunakan jaring sebagai alat tangkapnya. Tidak jarang mereka beroperasi melintasi beberapa kabupaten dan bahkan antar provinsi di Sulawesi. 


Sore hari dan kebetulan sekali nelayan baru saja tiba. Tempat pendaratan ikan (TPI) sudah ramai, anak-anak dan orang dewasa terlihat sudah berbaris disana, seperti menunggu rombongan pejabat atau orang penting yang akan berkunjung ke desa mereka. Sepertinya memang telah menjadi tradisi masyarakat pesisir, ketika nelayan mendarat maka mereka akan disambut oleh anak atau istri mereka. Saat ini menjadi lebih ramai dengan adanya sarana seperti TPI.


Hasil tangkapan nelayan disini terbilang cukup besar, dalam sekali mendarat terdapat 4 - 5 perahu yang berkapasitas 30-40 ton. Meskipun tidak semuanya penuh, namun tetap saja dapat memasok permintaan pedagang dan pasar. Ikan - ikan hasil tangkapan ini didistribusikan ke banyak daerah di Sulawesi Selatan. Seperti Tana Toraja, Sengkang, Enrekang dan bebrapa kota seperti Kota Makassar dan Pare-pare. Pendapatan dari hasil penjualan itulah yang dibagikan kepada setiap anggota yang terlibat dalam proses penangkapan.



Daeng ini tersenyum lebar ketika saya meminta untuk mengambil gambarnya. Beliau menjual "Bassang", bubur jangung pulut khas Makassar. Santapan ini sangat cocok sehabis melaut, apalagi kalau masih hangat. 

Selain "Bassang", saya juga menjumpai penjual jagung dan ikan bakar. Jualan ini bukan hanya untuk nelayan, tetapi juga buat masyarakat umum seperti para supir pengangkut ikan yang telah  menunggu sejak pagi atau siang hari.

Pemanfaatan kawasan pesisir memang terbilang efektif di daerah ini, tidak hanya berdaya guna bagi masyarakat nelayan, tetapi juga pedagang dan orang lain yang datang kemari.


Menghindar dari kebosanan, datangnya sering mengalir begitu saja. Apalagi kalau kabur ke pantai, angin laut berhembus diiringi matahari terbenam, sering membuat saya lupa pulang.

Nah kali ini giliran saya yang melaut, tunggu hasilnya besok pagi ya. Sampai jumpa....

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar