Menyapa Alam di Kampung Baru Pulau Bintan #Bintan Beach Camping

By PADLI PRIJAN - November 10, 2017


Beach Camping kali ini berlokasi di Kampung Baru, Desa Sebong Lagoi Kec. Teluk Sebong, Bintan Utara. Kampung ini merupakan salah satu lokasi konservasi penyu yang keindahan pantainya sering jadi perbincangan di lingkungan kami.

Survei Lokasi 

Tepat sehari sebelumnya, kami berkunjung untuk memastikan lokasi. Saya dan bro Roy Han pergi menemui ketua RT setempat untuk meminta izin. Ia pun menyambut kedatangan kami sore itu dengan baik dan ramah. Beberapa menit kami berbincang Ia merekomendasikan lokasi konservasi penyu sebagai lokasi base camp. Lalu kami pun menuju kesana untuk menemui Pak Sabri seorang pria yang bertugas di lokasi. Tidak berbelit, Ia pun mengizinkan. 


Perjalanan dimulai 
Esok harinya kami berangkat, namun harus bersabar menunggu hujan reda. Sore selepas hujan, sekitar pukul 03.00 kami beranjak menuju Bintan Resorts atau lebih dikenal sebagai kawasan wisata lagoi. Kampung baru ini merupakan salah satu pemukiman yang masih eksis di dalam kawasan tersebut, sehingga untuk mencapainya kami harus melewati pintu gerbang yang dijaga ketat 24 jam oleh sekuriti. 


Setelah melintasi infrastruktur jalanan yang sering disebut-sebut sebagai Singapura kedua, kami pun harus melalui rintangan yang cukup sulit dengan menyusuri jalan yang masih basah dan tidak rata. Belum ada informasi memadai yang kami himpun terkait mengapa akses menuju kampung ini belum dibangun dengan baik.

Yang jelas aroma rumput dan semak belukar yang terhembus di sekitar mengingatkan momen pendakian gunung beberapa tahun silam.


Menyempatkan istirahat dan berfoto selama perjalanan. Tidak begitu tinggi, tetapi pemandangan dari sini lumayan indah. Tepat di belakang kami adalah penampakan dari hotel Grand Lagoi yang terletak di kawasan Lagoi Bay Beach Resort. 


Sekitar tiga puluh menit akhirnya kami memasuki Kampung Baru. Camping ground terletak kurang lebih 120 meter ke arah timur dari persimpangan jalan masuk, cukup mengikuti jalan tanah hingga menemukan tugu seperti ini.

Kami juga tidak lupa mampir di rumah Pak RT yang tepat berada di dekat persimpangan sebelum tugu. Setelah melapor, kami pun meneruskan perjalanan. Nah, jalan menuju pusat konservasi penyu ini sudah terlihat rapi dan mudah dilalui oleh kendaraan. Sangat jelas terlihat kalau jalan ini dijaga kebersihannya, terutama pada bagian yang ditumbuhi alang-alang. 

Setelah sampai, terlebih dahulu kami menjupai Pak Sabri. Sekedar untuk memberitahu kalau kami telah datang. Tempat tinggal beliau tidak begitu jauh, hanya sekitar 50 meter. 


Satu hal yang masih disayangkan dari tempat ini adalah sampah yang masih terlihat berserakan. Saat ini mungkin bisa dimaklumi karena menjelang musim utara sampah kebanyakan hanyut dari laut. Tetapi tentu saja ini adalah masalah yang harus diperhatikan secara serius. 


Dari rumah Pak Sabri kembali ke camping ground, mulai melancarkan aksi di depan kamera dan lihat apa yang ada di belakang sana. Terdapat beberapa hotel mewah, yakni Cassia, Angsana dan Banyan Tree. 


Sebut saja sebagai sore terbaik di awal bulan november. Cuaca memang tidak begitu bagus, tetapi sama sekali tidak mengurangi keindahan langit sore itu.  Matahari dan awan menyatukan keindahan maha karya alam semesta.

Membongkar isi tas dan mengeluarkan peralatan memancing, hampir lupa dengan tenda. Rencananya memancing adalah bagian dari kegiatan yang akan kami lakukan. Tapi sayang sekali, umpan ketinggalan di rumah.


Membangun tenda, sebentar lagi matahari akan terbenam. Namun sayangnya matahari tertutup oleh awan. 


Tenda selesai, rehat sejenak, lalu rapikan barang-barang. Suasana sore sangat pas untuk rileks dengan adanya suara gemercik air dan deru ombak.


Hari sudah mulai gelap, lampu - lampu di seberang pun telah menyala. Dari sudut ini, kami menyaksikan keindahan pemandangan hotel berbintang dan sesekali terdengar suara keramaian yang terbawa angin.

Hanya bisa teriak, "Good evening tetangga" dari jarak ini tampak jelas perbedaan kita. Kalian punya 4 dan 5 bintang, sedangkan kami punya miliaran, tetapi di balik awan. Mari menikmati....


Mempersiapkan makan malam. Kebetulan sekali perut sudah mulai begemuruh. Camping kali ini perbekalan kami terbilang minim. Sesuai dengan tema, "Survive".


Santapan sederhana, mie rebus ala pantai. Sebut saja "Survive Mie", sebab makanan yang seharusnya disantap hanya ada di rumah, tidak disajikan disini. 


Jam menunjukkan pukul 23.00. Listrik di Kampung ini pun sudah padam. Sementara gerimis mempercepat tempo gerakannya, pertanda hujan telah turun. Padahal bulan tengah mengintip dari sela-sela awan di atas sana. .


Malam yang basah, duduk manis di antara kuyup dedaunan ditemani dua gelas cappuccino dan lantunan musik folk. Hingga pukul 02.00 dini hari hujan deras masih melanda, mata tak kuasa lagi menahan ngantuk, sudah waktunya tidur.


Ini adalah bagian yang mungkin tidak akan pernah bisa terlupakan. Sekitar pukul 06.00 pagi badai datang, sementara kami baru setengah sadar. Seperti tak ingin memberi kesempatan untuk kami berbenah, angin terus menggempur dan hampir saja menerbangkan tenda. 

Kurang lebih tiga puluh menit kami bertahan di dalam, petir terus menyambar dan membuat kami berpikir untuk segera keluar mencari persembunyian yang lebih aman. 


Di sebuah bangunan kayu, kami menunggu hingga badai berhenti,  kira-kira dua jam lamanya barulah mulai mereda, tetapi masih menyisakan hujan. Inilah kesempatan saya mengambil gambar. 

Kami datang disaat musim utara akan menjelang. Ombak dan juga hujan memang sudah terjadi hampir setiap hari sejak akhir oktober. Di desa tempat kami tinggal, terutama di kawasan pesisir barat nelayan mulai terlihat berbondong mencari penghidupan di darat, pertanda kalau aktivitas mencari nafkah di laut sudah kurang meyakinkan. Badai ini adalah salah satu konsekuensi yang harus kami lalui. 


Kembali ke dalam tenda setelah dua jam berangin-angin ria. Di luar angin kembali berhembus kencang, tapi kali ini masih dalam batas aman, tanpa kilat di udara.


Breakfast in the morning seadanya, pagi-pagi bak korban bencana alam. Yang kami punya tinggallah sebungkus roti, mie dan beberapa kali  teguk air minum.


Persediaan air telah habis, bermodal dua botol kosong Roy Han berusaha ke rumah Pak Sabri mengisi air. Sayang, pintu rumahnya masih tertutup. Sementara halaman depan rumahnya sudah porak poranda akibat gempuran ombak yang dibawa badai.


Berselang satu jam kemudian matahari mulai menampakkan diri,  daun-daun yang tadinya pekat kini terlihat lebih muda dengan warnanya yang cerah.  Tetapi ada yang melukai pandangan, sampah dari laut kembali berserakan di sepanjang pantai.


Tak ingin menunggu lebih lama lagi ketika air laut mulai terlihat jernih. Satu-satunya cara melepas penat dan rasa was-was akibat badai adalah berteriak dan melompat lalu membenamkan diri di dasar laut. Hahahaha....


Mendung berganti cerah, suasananya seperti private beach camping,  no one here. Sepertinya  Pulau Bintan miliknya sendiri.



Berlari seperti anak-anak, bermain dan tak ingin berhenti. Butuh kekuatan supernya emak untuk menghentikannya.


Mulai kehabisan gaya, kehabisan energi dan kelelahan. Satu-satunya pose manja bersama ibu pertiwi, sebelum kami meninggalkan tempat. 



Kenang-kenangan yang bisa dibawa pulang, akhirnya nambah lagi ilmu tentang penyu. Sebelumnya hanya tau "Ninja Turtles".

Bertolak 
Siang, kira-kira pukul 13.00 kami bergerak meninggalkan lokasi Camping. Sebelumnya kami mengunjungi rumah Pak Sabri, rencananya mau pamit. Tapi sepertinya beliau sedang tidur siang, pintu rumahnya tertutup rapat. Akhirnya kami hanya pamit di rumah Pak RT dan menitipkan salam, serta terima kasih kepada Pak Sabri.


Perjalanan pulang kondisi jalan kurang lebih sama seperti ketika kami datang. Basah, banyak genangan air dan juga naik turun.


Seperti itulah cerita camping di awal bulan november, terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca.

  • Share:

You Might Also Like

3 komentar