Pasang Surut di Pesisir Sulawesi, Menyambangi Nelayan Tamalate Hingga Matahari Terbenam

By PADLI PRIJAN - Agustus 01, 2017


Nge-Blog itu adalah kegiatan yang gampang-gampang susah, apalagi kalau belum ketemu topik apa yang mau diangkat. Di suatu siang ketika cuaca sedang hangat-hangatnya, saya duduk santai ditemani segelas cappucino dingin sambil berhadapan dengan kotak imaginasi elektronik yang telah 9 tahun menemani saya. Beberapa kali buka tutup folder, jadi teringat sesuatu di dalam galeri. Ada sebuah kotak kecil berwarna kuning berisi dokumentasi ketika berkunjung ke kawasan pesisir di sulawesi selatan. Flashback sedikit tak apa lah ...

Desa Tamalate, sebuah desa di Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar dan merupakan kawasan pesisir yang dihuni oleh banyak nelayan. Tepatnya lima tahun silam, saya berkunjung kesana untuk membantu proses pengumpulan data salah satu dosen ketika saya masih belajar di universitas. Kebetulan waktu itu saya juga sedang mengambil konsentrasi antropologi bahari, karena sesuai dengan interest saya maka momen itu saya jadikan kesempatan untuk belajar lebih banyak.

“ Belajar dari Nelayan”

Nelayan sering kali diidentikkan dengan kemiskinan. Mungkin karena orang-orang hanya melihat satu sisi, yakni nelayan belum mampu memandirikan diri secara ekonomi. Saya percaya pandangan itu tidak akan melekat selamanya.

Di Tamalate, salah satu kelompok nelayan yang kami pelajari adalah nelayan yang beroperasi secara berkelompok yang biasanya disebut Pa rengge. Satu kapal bisa beranggotakan 15 hingga 18 orang. Jumlah sebanyak itu membuat saya mengenal banyak orang disana dan juga banyak mendengar cerita tentang kehidupan mereka. Keluh kesah, baik buruknya pekerjaan hingga persoalan kebutuhan rumah tangga mereka. 


Kehidupan nelayan serupa musik, nada dan iramanya naik turun, seperti laut yang bisa pasang dan surut. Tetapi nelayan tak pernah sama sekali bosan dengan alunan musik itu.

Keyakinan untuk maju tertanam dengan akar yang sangat kokoh. Mereka percaya jika hidup dipupuk dengan harapan, maka semangat dan keinginan berusaha akan selalu hidup dan pasti bisa membawa kebaikan. Begitu kira-kira makna curhatan sang punggawa di suatu sore ketika dia mengajak saya untuk bersantai di atas kapal waktu itu.

Jika berkumpul dengan nelayan disini, maka bersiaplah mendengarkan dongeng atau kisah-kisah tentang mereka. Memaknai tiap perkataan dan tertawa lepas bersama-sama. Mereka melakukan itu layaknya seperti seorang sahabat. Jadi tak tak perlu sungkan-sungkan.

Saya menghabiskan banyak kesempatan untuk bolak-balik ke tempat ini. Kemudian saya menyadari beberapa hal dari catatan-catatan setelah puluhan interview yang saya lakukan. Ada pesan yang bisa ditafsirkan dibalik keluh kesah yang mereka tuturkan, “jangan pernah menyadari bahwa dirimu sedang lelah”Harus diakui bahwa masih banyak dari mereka yang hidup seadanya atau pun juga kekurangan. Tetapi mereka tetap sabar dan merasa tangguh menjalani hidup, bertahan dengan apa yang diberikan tuhan. 

Meminjam sudut pandang yang lain, bahwa sebenarnya nelayan disana sedang terjebak dalam sebuah perangkap. Jebakan dengan motif cultural yang tertata dan terjaga secara turun-temurun. 

 “ Melihat dunia ”

Setiap lingkungan sosial memiliki cara hidupnya sendiri. Bagaimana seseorang melihat dunianya, banyak yang percaya bahwa siapa dan apa saja yang ada di sekitar sangat mempengaruhi cara hidup seseorang. Seperti, bagaimana ia menilai, bagaimana ia bertutur dan bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain, baik di dalam maupun di luar kelompoknya.


Nelayan di tamalate memeluk agama islam, meskipun dalam prakteknya masih melibatkan cara-cara tradisional untuk mensyukuri pemberian sang pencipta. 

Sebagai nelayan, mereka percaya bahwa tuhan memiliki utusan yang mengawasi setiap apa yang mereka lakuka, baik di laut saat mencari ikan, maupun di darat ketika berinteraksi dengan sesama. Maka dari itu, jangan heran jika banyak sekali hal-hal yang dipantangkan dalam kehidupan nelayan. Ini juga bisa menjadi dasar asumsi mengapa ritual atau upacara-upacara adat mereka yang masih bertahan hingga saat ini.

Hadir di antara mereka adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga bagi saya. Secara jelas saya bisa mendapati bagaimana mereka menyambut kehadiran orang lain, mempercayai dan memperakukannya dengan sikap yang sangat ramah. Tidak butuh banyak waktu untuk akrab dengan mereka. 

" Momen yang ditunggu-tunggu "

Pagi dan sore hari adalah waktu yang sering mereka pilih untuk mendaratkan ikan. Ini adalah yang paling dinantikan oleh banyak orang. Berikut ini adalah beberapa dokumentasi pendaratan ikan yang ada di tempat pendaratan ikan (TPI) Desa Tamalate.  


Kedatangan mereka disambut dengan sangat ramai. Dewasa dan anak-anak ikut berpartisipasi membantu proses pengangkutan ikan dari kapal ke darat.

“ Anak-anak nelayan di masa depan “

Rupanya dibalik predikat kemiskinan yang sering dialamatkan kepada mereka, ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan dan didukung. 

Nelayan juga ingin melihat anak -anak mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Bersekolah adalah salah satu cara yang mereka percaya dapat membuka pintu untuk harapan - harapan. 

Selepas sekolah, terutama di sore hari menjelang matahari terbenam, pantai adalah salah satu tempat yang paling asik untuk bermain, hampir seluruh anak-anak di sekitar rumah informan saya berada disini. Foto ini mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Laut dan pantai adalah lapangan bermain sehari-hari.


“ Serunya Menunggu Matahari Terbenam “ 

Mengunjungi masyarakat pesisir sangat cucok buat para sunset huters apalagi kalau pantainya menghadap ke barat. Pantai di desa ini memiliki pemandangan sunset yang luar biasa indahnya. Pada satu kesempatan, saya juga mengajak teman saya kesini buat berbagi kebahagiaan



"Menikmati Ikan Hasil tangkapan Nelayan"

Sebelum kita beranjak pulang, ada satu ritual wajib yang pantang untuk dilewatkan. Mulai dari bakar-bakar ikan, makan lalu pamit-pamitan hehe....




Gambarnya kena sensor, kamera ditepikan jauh- jauh karena tidak ada yang mau melewatkan makanan lezat ini. Sekian sampai disini saja. Besok-besok kita berjumpa lagi !!! 

Sekian ... 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar