Memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia #Satu Kisah di Bintan Resorts

By PADLI PRIJAN - Agustus 16, 2017

" Tujuh belas agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita. Hari Merdeka Nusa dan Bangsa, hari lahirnya Bangsa Indonesia, Merdeka ..,
sekali Merdeka tetap Merdeka ..."  
#Cuplikan Lagu Hari Merdeka (17 Agustus1945)

Dari radio, televisi dan media digital, dengung lagu-lagu kebangsaan beberapa hari ini langsung mengobarkan kembali semangat nasionalisme. Menghanyutkan pikiran saya pada tanggal 17 agustus tahun 2016. Kala itu saya terlibat dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Negara Republik Indonesia (NKRI) yang dilaksanakan di Bintan Resorts. Waktu itu saya baru saja tergabung secara resmi ke dalam sebuah team beranggotakan manusia-manusia langka, para pemburu "harta karun" di kawasan wisata hutan mangrove Bintan Resorts.

"Pilih Latihan dan merelakan Nona Jepang bersama orang lain"

Sebagai anggota baru dalam lingkaran, sudah pasti momen seperti ini menjadi pengalaman yang luar biasa buat saya setelah beberapa tahun sebelumnya tidak pernah "lagi" terlibat langsung dalam kegiatan baris - berbaris. Demi menjaga integritas agar perwakilan dari unit kami terlihat lebih solid (ala-ala militer), maka saya harus memenuhi permintaan untuk menjadi bagian dari grup gerak jalan ini, meski pada awalnya sangat berat dan penuh alasan.

Saya dan beberapa orang dalam team ini berprofesi sebagai pemandu wisata dan boat crew. Sisanya bertugas di bagian taxi dan kuliner. Jelas kami punya jadwal kerja yang berbeda dan bertabrakan satu dengan yang lain, sehingga sedikit kesulitan menentukan waktu yang tepat untuk berkumpul latihan. Sementara itu, empat hari lagi sudah 17 agustus

Berada di tengah musim ramainya turis, mau tak mau harus ikhlas kehilangan kesempatan menemani nona - nona Jepang, agashi dan ajuma modis dari Korea dan tentunya juga ledis - ledis lain yang sedang menikmati summer vacation.

Hari pertama dimulai dengan penentuan posisi dalam barisan dan gerakan dasar ala training camp skuad sepakbola. Kami menyelesaikannya dengan sangat baik. Bravo !!!

Hari kedua, kami mulai melatih gerakan "tambahan" #ehh... dan juga simulasi di jalanan tentunya. 

Hari ketiga juga demikian, tetapi dengan sedikit polesan variasi baru. 

"Si teknis yang selalu terjerumus dalam kesalahan..."
Hari meriah atau pesta kemerdekaan yang dinantikan ribuan orang di kawasan itu telah tiba. Berbagai grup telah ramai mengatur barisan, mulai dari grup sekolah dasar hingga grup karyawan dan juga komunitas desa yang terlibat terlihat sangat antusias. Maklum kegiatan ini juga merupakan kompetisi. Kami pun langsung menuju panitia untuk mengambil nomor peserta. Ya, nomor itu menentukan urutan dimana kami harus baris dan tentunya akan menjadi angka-angka yang sakral jika mendapatkan juara. 
Di hadapan panitia, Yang benar saja ............................???????????????????
Jujur, rasa terkejut kala itu masih membayangi saya hingga saat ini. Bagaimana tidak, selama latihan kami sudah berusaha  sangat keras, juga mengorbankan banyak hal  yang tidak bisa disebutkan satu persatu dan ternyata grup kami tidak tercatat sebagai peserta kompetisi, melainkan hanya sebagai kelompok yang ikut meramaikan. Sakit Vroh ...!!!  

Ada saja sesuatu yang tak sesuai ekspektasi. Seperti biasa, orang Indonesia akan mengatakan "ada kesalahan teknis". ini adalah alasan tingkat dewa bagi yang tak ingin mati gaya atau tak mau disalahkan. Hehe Iya kan...???

" Kamu itu aneh ..."
Ingin terlihat garang dengan garis-garis di wajah bak tentara yang baru saja keluar dari medan laga. Tetapi saya masih gagal paham, kenapa harus mendandani wajah seperti kucing. Apa hubungannya dengan kemerdekaan ?
Sungguh sarat ambigu dan masih menyisakan pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab secara jelas hingga kini.

Merdekakan idemu
Merdekalah Bersama...
Jayalah Indonesia, Merdeka,...!!!

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar