Trip to Pulau Bonerate, 12 Jam Membelah laut Flores

By PADLI PRIJAN - Juli 28, 2017



Oktober 2013 adalah salah satu perjalanan saya yang tak terlupa hingga saat ini. Bersama sahabat saya Avrialdy, kami melakukan perjalanan dari Kota Makassar menuju sebuah pulau yang terletak di wilayah selatan Pulau Sulawesi, Pulau Bonerate

Hari itu 24 Oktober tahun 2013, Sekitar pukul 07.30 pagi kami berangkat dari rumah menuju terminal Malengkeri di perbatasan Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Bus akan berangkat pukul 08.30 tujuan Benteng Selayar, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Selayar. Perjalanan ini menghabiskan waktu kurang lebih 6 jam untuk sampai ke Pelabuhan Ferry di Tanjung Bira Kab. Bulukumba, sebelum kemudian menyebrang ke Pulau Selayar. Rutenya terbilang luar biasa dan kami pun sempat mengalami beberapa hambatan sehingga menambah durasi perjalanan.

" Menyebrangi Selat Selayar "

Setelah melalui jalan yang cukup panjang, akhirnya kami tiba di Pelabuhan Ferry Tanjung bira kira-kira pukul 15.30, tersisa 30 menit untuk keberangkatan Ferry tujuan Pelabuhan Pamatata Pulau selayar yang berangkat 16.00 Wita. 


Lima belas menit sebelum kapal meninggalkan pelabuhan, kami telah lebih dahulu naik dan mencari tempat beristirahat, sebab perjalanan laut ini akan menghabiskan waktu 2 jam, jika tidak ada kendala cuaca dan alhamdulillah hari itu sangat bersahabat.

Situasi di kapal saat itu cukup bagus dan penumpang pun tidak begitu ramai, jadi tidak perlu berdesak-desakan atau berebut tempat duduk.


Beberapa saat kemudian, terdengarlah penyampaian dari perangkat suara yang terdapat di beberapa sudut, bahwa kapal akan segera berangkat. Kami pun segera menuju lantai atas untuk membuat dokumentasi, tepat Pukul 16.00 kami bergerak menuju Pulau Selayar.



Perjalanan ini lumayan menyenangkan dan rasa lelah setelah berjam-jam di dalam bus pun pelan-pelan menghilang. Matahari sore, laut biru dan desir angin di selat Selayar luar biasa, menciptakan suasana yang penuh dengan cerita menjelang senja.


"Senja di Balik Kaca"


Tidak terasa setelah hampir 2 jam terapung di laut nusantara, kapal pun bersandar di pelabuhan Pamatata. Pelabuhan ini terletak di bagian utara Pulau Selayar, dibagun di pantai timur yang cukup strategis untuk berlindung dikala musim hujan atau musim barat tiba. Perjalanan kami sedikit lebih cepat karena cuaca sedang bagus-bagusnya hari itu.



Satu persatu penumpang mulai beranjak dari tempatnya dan kami pun segera turun ke bus yang berada di lantai dasar. Situasi saat itu mengingatkan saya pada momen mudik lebaran, dimana perantau datang dari berbagai tempat untuk menjumpai keluarga. Saya menjadi tidak sabar...

Kendaraan mulai keluar dari kapal dan terlihat petugas pelabuhan sedang sibuk mengatur. Bising suara kendaraan bermotor seperti memacu detak jantung dan ketidaksabaran saya untuk meninggalkan pelabuhan.

Setelah menunggu sekiranya 10 menit, tibalah giliran bus yang kami tumpangi. Di balik jendela kaca terlihat matahari yang sebentar lagi akan terbenam. Senja yang begitu indah mewarnai kedatangan kami di Pulau Selayar.

"Jam menunjukkan pukul 17.51" begitulah suara yang keluar dari handphone legendaris buatan finlandia yang saya gunakan waktu itu. Ini berarti perjalanan masih panjang, bisa dikatakan baru saja setengah jalan untuk sampai ke Pulau Bonerate.

Dari pelabuhan Pamatata ke Benteng Selayar masih membutuhkan waktu sekitar 1 jam lagi, kami harus menikmati naik turunnya daratan Selayar. Tiba di Benteng Selayar barulah rasa lelah datang kembali dan kami harus mencari tempat menginap sebelum petualangan dilanjutkan. 

"Truk naik dan turun di ruangan sebelah"

Malam itu saya menjumpai Hasan, teman saya dari Pulau Bonerate yang kebetulan sedang berada di Kota Benteng. Ia menawarkan tempat untuk beristirahat, sebuah bangunan rumah berpetak dengan tiga pintu. Rumah itu merupakan tempat tinggal Kepala Desa Bonerate dan Majapahit ketika sedang dalam tugas dinas di kabupaten. 



Ngantuk dan lapar mulai berkolaborasi menciptakan tekanan yang sulit untuk saya taklukkan. Sebenarnya ingin makan, namun rasa ngantuk sangat mendominasi malam itu. 

Tengah uduk di ruang tamu dan menonton Tv, saya baru menyadari kalau saya tidak datang sendirian. Itu terjadi ketika saya mendengar suara yang menyerupai bunyi mesin truck yang sedang menanjak, bergaintian dengan bunyi remnya, ssssst.... 

Rupanya Avrialdy sedang ngorok, ia telah lebih dahulu menyebrang ke alam tidur. Hal mengejutkan adalah ketika ia melakukan sesuatu di luar kebiasaannya, tidur di kamar tanpa AC dan bantal.

"Tiga hari tiga malam menunggu kapal"

Perjalanan kami saat itu terbilang menjadi sedikit sulit karena masalah transportasi. Tidak ada kapal yang menyebrang ke pulau, tetapi semuanya sudah dalam dugaan kalau transportasi ke beberapa pulau di kabupaten ini masih belum teratur jadwalnya. Jadi, kami harus bersabar.



Menghabiskan Pagi dengan Suguhan Kopi dari Hasan

Menghubungi gebetan yang telah bertahun-tahun tak jadi-jadi


" Sumpah Pemuda, 12 Jam membelah Laut Flores"

Hari itu tanggal 28 oktober, bertepatan dengan peringatan hari sumpah pemuda, semangat kami menjadi berapi-api. Bukan karena semangat kebangsaan, tetapi karena tumpangan ke Pulau Bonerate sudah ada. Durhaka ...!!! 

Sekitar pukul 12.00 kapal  akan berangkat, kami menuju pelabuhan Benteng Selayar lebih awal. Dari tempat tinggal kami jaraknya cukup dekat dan bisa diakses dengan berjalan kaki, kira-kira 20 menit saja. 

Satu catatan penting adalah kendaraan umum di Ibu Kota Kabupaten saat itu sangat terbatas. Bagi yang buru-buru silahkan panggil becak atau tukang ojek yang mmangkal di sekitar. Sebab angkot hanya beroperasi di saat pagi dan sore, tetapi hanya pada hari pasar.

Pelabuhan Benteng Selayar sedang tidak ramai, hanya ada beberapa kapal yang bersandar. Kami berangkat ke Pulau Bonerate menggunakan kapal kayu Km. Mustika Bahari yang berkapasitas kira-kira 12 - 15 ton dan dinahkodai oleh Pak Rahim.

Biayanya saat itu masih sangat terjangkau, hanya Rp. 80 ribu perorang untuk pelajar dan mahasiswa, Rp. 100 ribu untuk kategori dewasa atau umum. Menurut beberapa pihak, sebenarnya kapal-kapal tersebut tidak masuk kategori kapal penumpang, melainkan pemuat barang. Oleh karena itu, kapal dari pulau-pulau hanya datang ketika mereka memiliki muatan barang. 

Kami cukup beruntung karena muatan kapal tidak begitu banyak, sehingga cukup leluasa. Sangat sempurna buat manusia seukuran Avrialdy. Selain itu, untuk menunjang kecepatannya kapal ini dilengkapi tiga buah mesin dompeng yang cukup tangguh, mesin induk 300 Pk dan dua mesin pembantu 24 Pk di kiri dan kanannya.



Dengan tenaga tiga mesin tersebut Pulau Bonerate yang jaraknya sekitar 119 mil dapat dapat dijangkau kurang lebih 11 hingga 12 jam. Bagi yang mabuk laut sebaiknya persiapkan segala macam perlengkapan medis.

Rute menuju Pulau Bonerate terbilang asyik karena sepanjang perjalanan gugusan pulau-pulau berjejer hampir tak pernah putus. Pulau - pulau tersebut juga sangat indah dipandang, berjejer dari utara ke selatan membelah laut Flores. Perjalanan kami menempuh 12 jam, yang artinya kami tiba disana sekitar pukul 01.00 dini hari. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya berada di tengah laut dengan kapal kayu selama 12 jam.

"Rp. 20.000 dapat 10 ekor ikan tuna"

Welcome to the Island of Orang Bonerate, salah satu pulau terpencil yang hampir tak bisa di temukan di peta. Setiba di Pulau Bonerate, kami langsung bergerak menuju darat. Kami berjalan kaki hampir 1 kilometer dalam keadaan gelap gulita, hanya bermodalkan nyali dan sebiji handphone yang dilengkapi lampu senter. Jam menunjukkan pukul 01.25 dini hari., harus diakui bahwa pasokan listrik terhadap warga saat itu cukup terbatas. Umumnya listrik hanya bisa dijumpai mulai pukul 18.00 hingga pukul 24.00.

Kami berada di Desa Bonerate yang terletak di pesisir barat Pulau ini. Hari pertama di disana saya harus menyatakan dengan berat hati bahwa teman saya terlalu kekotaan, belum sadar kalau dia tidak lagi di Indonesia, ehhh... maksud saya di Makassar. 



Salah satu bagian yang paling asik untuk mengejeknya adalah ketika berusaha bercakap-cakap dengan penjual ikan. Oktober tahun itu kebetulan sedang musim ikan tuna dan ikan tongkol. Suatu pagi Avrialdy sedang duduk di depan rumah mengamati suasana Pulau yang rada-rada sepi. Kemudian lewatlah seorang perempuan yang sudah lumayan berumur mendorong sepeda dengan beberapa ember yang digantung pada bagian depan.

Ibu itu sedang menjual ikan, Aldy pun bertanya berapa harga ikannya. Mendengar jawaban ia langsung memborong semua ikan yang dijual ibu itu. Bagaimana tidak, dia sangat kaget mendengar ikan-ikan tuna sebesar itu hanya dijual Rp. 2000 per ekor. 

Dengan wajah yang masih girang, ia masuk ke dapur dengan tentengan 10 ekor ikan hendak ditunjukkan ke Ibu yang sedang memasak. Kejadian itu sontak menjadi lelucon karena malah diketawai. Seharusnya ia menawar sebelum mebeli ikan itu, lagi pula di musim ikan kenapa harus membeli sebanyak itu, hari-hari kan ada ikan segar. hehe

"Lokasi Pembuatan Kapal"

Lokasi ini berada di pesisir barat Pulau Bonerate, rugi bila tak berkunjung. Jangan menumpangi kapalnya saja, sempatkanlah melihat-lihat bagaimana proses pembuatannya. Kapal-kapal ini kebanyakan adalah pesanan dari pengusaha-pengusaha di bidang perikanan dan pelayaran. 



Kapal-kapal buatan Orang Bonerate pernah sangat populer di beberapa daerah di Indonesia. Salah satunya adalah Surabaya, Buton, Flores dan bahkan ada yang sampai ke luari negeri yang diproduksi untuk keperluan perhotelan.

"Pantai Sambali"

Jangan sebut Pulau jika tak punya pantai yang cantik. Lokasi di foto adalah pantai sambali, sebuah desa yang berada di antara timur tenggara pulau ini.

Beberapa hari sebelum kembali ke Makassar saya membawa saudagar berbaju merah ini menikmati pantai. Awalnya ia mengira pantai yang saya maksud adalah di lokasi pembuatan kapal, malas katanya... 



Pantai ini masih sangat alami dan sensasi disekitar memang benar-benar pantai bingitss... sangat jauh dengan pantai-pantai yang ada di resort yang sudah dicampuri oleh tangan-tangan berfulus. hehehe

Pasir-pasir ini putih bersinar. jarang terjamah manusia. Jauh dari aktifitas manusia yang suka membuang sampah sembarangan.


"Menyambangi Lagundi, Kampung Tua yang ditinggalkan"


Menjelang satu minggu berada di Pulau Bonerate, kami mulai bosan berada hanya di sekitar rumah saja. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajak  berkunjung ke kampung tertua dan pertama yang ada di pulau.


Lagundi adalah salah satu bagian penting dari perjalanan hidup Orang Bonerate, mulai dari Sejarah, Kebudayaan dan Kepercayaan. Meski sebagian kebenarannya masih menyimpan misteri, namun yang pasti adalah semua masyarakat di Pulau percaya bahwa Lagundi adalah kampung pertama yang pernah dihuni oleh Orang bonerate.

Tidak banyak yang saya ketahui tentang tempat ini. Daripada bingung dan pura-pura tahu, lebih baik nikmati saja apa yang masih tersisa saat ini.

Gambar tersebut adalah gubuk - gubuk yang dimanfaatkan sebagai dapur, tempat tidur dan penyimpanan peralatan. Di sudut-sudut lainnya terdapat pula kandang-kandang peternakan ayam dan itik. 

Lagundi kini merupakan salah satu lokasi pertanian rumput laut. Ada pun orang-orang yang kami temui hari adalah beberapa laki-laki tua yang sedang menambang pasir dan seorang ibu yang sedang memperbaiki tali pelampung. Ia sangat lihai menganyam dan melilitkan perlengkapan pertanian rumput laut miliknya. Mereka berasal dari Desa Bonea di selatan Pulau Bonerate.

Keluarga ini masih sering tinggal di sana meskipun kadang hanya berdua saja bersama sang suami. Mereka sudah terbiasa dan sangat menyukai lingkungan yang tenang dan jauh dari keramaian.




Terima kasih sudah membaca

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar