Orang Bonerate (1)

By PADLI PRIJAN - Maret 23, 2017



Lagundi Pulau Bonerate, (31/10/2013)
Akhir – akhir ini internet dan media sosial cukup menyita waktu saya. Dalam sehari saya menghabiskan 3 – 4 jam di depan mesin ketik elektronik. Tidak dapat dipungkiri era digital telah membawa manusia menemukan kebebasan, antara lain adalah kebebasan berekspresi, berpendapat, berinteraksi dengan siapa saja dan banyak lagi kebebasan-kebebasan lainnya yang tidak jarang menuai kontroversi.
Beberapa hari lalu saya menemukan sebuah blog yang berisi konten tentang kebudayaan, isinya bisa dibilang lengkap dengan uraian berbagai sejarah suku bangsa di indonesia dari sabang sampai merauke. Namun ada hal yang sangat mengusik pikiran saya ketika menemukan postingan tentang asal-usul suku Bonerate.

Tanpa berpikir panjang saya pun segera membagikan kontent tersebut ke tautan sosmed saya yang alhamdulillah mendapat banyak tanggapan dari kawan-kawan se-suku bangsa saya.
Tidak ada maksud untuk memprovokasi atau upaya menyudutkan si pemilik blog tersebut, namun saya hanya ingin agar si penulis bisa lebih beretika agar tulisan-tulisannya tidak menimbulkan kegaduhan opini yang menyebabkan ketersinggungan para pembacanya, apalagi yang diulas adalah  sejarah suku bangsa yang sangat rentan dengan isu SARA yang bisa saja berujung pada konflik.


Setiap suku memiliki sejarah panjang, ada banyak peristiwa yang telah mereka lalui, misalnya peristiwa kelam yang melibatkan tragedi kemanusiaan dan bencana alam. Juga  masa kejayaan setelah bangkit dari keterpurukan yang menjadi momen paling membahagiakan dan bersejarah yang tentu sangat emosional bagi anggotanya.
Dalam blog kontroversial tersebut, diulas bagaimana identitas dan kondisi sosial kehidupan suku Bonerate yang disebutkan bahwa nenek moyang orang Bonerate berasal dari Madura, bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa burung-burung, tingkat pendidikan di Pulau Bonerate sangat rendah, pengangguran sangat tinggi serta ketersediaan infrastruktur dan air bersih sangat terbatas. Ini sangat jelas si penulis tidak menggunakan metode dan etika penulisan serta referensi yang terbaru dan akurat. Tulisan ini benar-benar membuat saya tersinggung tetapi juga saya merasa berterima kasih, karena blog tersebut menginspirasi saya untuk kembali menulis.

Dalam postingan ini saya mencoba memberikan gambaran tentang Orang Bonerate yang meliputi beberapa aspek kehidupannya. Mengingat kritisnya anak-anak Bonerate, semoga saya tidak bernasib naas setelah menulis ini. Hehe

Sejarah Singkat


Terkait sejarah Orang Bonerate, sekitar tujuh tahun yang lalu saya mengikuti kelas Sejarah Bahari di Indonesia yang dipimpin langsung oleh Prof. Edward sebagai salah satu ahli di bidang sejarah kemaritiman di Indonesia. Menurutnya, kawasan yang merupakan letak Pulau Bonerate ini adalah salah satu titik yang sangat rawan dalam sejarah pelayaran di Nusantara. Dimana Perdagangan, perbudakan dan pembajakan atau perampasan merupakan kegiatan yang membentuk perekonomian masyarakatnya.
Pernyataan yang serupa ternyata telah lama termuat  dalam tulisan Kriebel yang berjudul “Het Eiland Bonerate” tahun 1920, dimana dijelaskan juga bahwa penyebab utama kegiatan tesebut dikarenakan sumber daya alam di pulau tidak pernah bisa mencukupi kebutuhan masyarakat.



Penggambaran tersebut di atas memberikan sedikit refleksi terhadap apa yang pernah terjadi di masa lampau. Beranjak dari itu, masyarakat Bonerate sebagai masyarakat yang dinamis, melakukan perubahan adalah hal yang mutlak terjadi. Hal ini didukung oleh letak geografis Pulau Bonerate sebagai bagian dari rute pelayaran yang tentu saja membuat masyarakatnya lebih terbuka. Maka dari itu sangat wajar ketika melihat keanekaragaman suku di Pulau ini.

Dalam Encyclopedia Of World Culture terbitan tahun 1996, seorang antropolog asal Norwegia bernama Harald Beyer Broch pernah menulis  aspek-aspek kehidupan masyarakat Pulau Bonerate.


Ia Broch (1985) menyebutkan bahwa pada tahun 1978 penduduk masyarakat Bonerate berjumlah sekitar 5.500 orang yang berasal dari berbagai kelompok suku. Suku Bonerate merupakan suku dominan yang diyakini sebagai keturunan penduduk asli yang pada awalnya merupakan imigran dari Buton.
Jika pada awalnya cikal bakal penduduk asli Pulau Bonerate berasal dari Buton, bukan berarti beberapa kelompok etnik lain tidak ikut serta dalam pembentukan identitas Orang Bonerate sebagaimana  kita kenal saat ini. Lanjut, Broch juga menyebutkan bahwa masyarakat Pulau Bonerate memanggil diri mereka “Orang Bonerate”, ini juga merupakan istilah atau nama panggilan yang digunakan oleh orang-orang dari Pulau lain di sekitar Pulau Bonerate yang mana sudah mewakili mereka-mereka keturunan etnik lain seperti Bugis dan Makassar yang mendiami Pulau Bonerate kala itu.


Mengapa mereka memanggil kita Orang Bonerate? Asumsi saya adalah selain kita tinggal di Pulau Bonerate, kita juga secara aktif berkomunikasi menggunakan “Bahasa Bonerate” dalam kehidupan sehari-hari. Melalui bahasa inilah mereka melihat kita sebagai Orang Bonerate tanpa melihat warna kulit, mata dan jenis rambut yang lebih Buton, Bugis atau pun Makassar.

Agama dan Kepercayaan
Islam adalah agama yang dipeluk oleh sebagian besar Penduduk Pulau Bonerate. Meskipun tidak ada catatan historis yang menyebutkan bagaimana cikal bakal datangnya islam di Pulau ini, namun mereka percaya bahwa Islam adalah agama yang telah lama dianut oleh para pendahulunya.


Saat ini setiap Desa di Pulau Bonerate memiliki masjid dan dalam prakteknya Orang Bonerate aktif memperingati hari-hari besar Islam, seperti Mauild Nabi, Isra Mi’raj, Ramadhan, serta merayakan Idul fitri dan Idul adha.
Selain itu, terdapat juga kepercayaan yang sifatnya sinkretis atau percaya pada keberadaan kekuatan supranatural. Kepercayaan ini masih melibatkan upacara lingkaran hidup seperti perkawinan, kelahiran, aqekah, dan juga kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan  mata pencaharaian seperti pembuatan perahu dan prosesi pengapungannya.


Ekonomi dan Mata pencaharian
Dewasa ini ekonomi merupakan salah satu faktor yang vital bagi beberapa aspek kehidupan masyarakat. Ekonomi juga merupakan parameter untuk mengukur tingkat kemajuan kelompok masyarakat.


Pada mulanya perekonomian Orang Bonerate sangat bertumpu pada hasil perkebunan. Sistem cocok tanam yang mereka terapkan adalah sistem Slash and Burn, dimana pembukaan lahan perkebunan tersebut dilakukan dengan menebang dan membakar. Peralatan pendukungnya pun sederhana, yakni parang dan linggis sebagai peralatan utama dan didukung beberapa jenis alat lainnya
Orang Bonerete menyebut lahan tersebut koranga, yang mana lahan ini dapat digunakan untuk menanam beberapa jenis tanaman, seperti jagung, ubi, singkong, semangka, timun dan jenis-jenis kacang seperti kacang hijau. Namun karena kondisi fisik pulau (tanah) kurang mendukung dan jumlah populasi yang terus meningkat setiap tahun, seringkali hasil perkebunan tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakat, hingga akhirnya “berlayar” atau “Langke” dalam bahasa Bonerate tampil sebagai jenis pekerjaan yang populer bagi kaum laki-laki.

Masyarakat tetap terlihat cukup tangguh bertahan hidup dalam tekanan ekonomi, Saat ini mata pencaharian di Pulau Bonerate sudah bervariasi. Sebagai bentuk partisipasi mereka dalam laju roda perekonomian, Orang Bonerate telah menekuni beberapa jenis pekerjaan Yakni : (1) Agrikultur di dalamnya telah termasuk perkebunan dan pertanian rumput laut. (2)  Peternak (3) Tukang Kayu; pengrajin kayu dan pembuat perahu  (4) Abdi Negara; pegawai pemerintah dan guru. (5) Pelaut (6) Pedagang dan (7) Nelayan.


Menurut Broch (1985), hal unik yang mencolok dalam sistem perekonomian mayarakat adalah tidak adanya dorongan dari salah satu gender untuk mendominasi peran yang berhubungan dengan pembagian kerja. Pada masyarakat ini,  pria dan wanita tampak saling mendukung dan bekerja sama .

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar