Pertama kali Snorkeling, Oke-oke saja tanpa kamera underwater

By PADLI PRIJAN - Juli 05, 2016

Nambah-nambah isi kocek sambil liburan siapa yang bisa nolak?. Siang-siang telepon genggam berdering, sebuah panggilan yang memang sudah saya tunggu-tunggu. Beberapa hari sebelumnya saya sudah menerima informasi dari bagian reservasi, bersiaplah untuk mencoba pengalaman baru.

Waktu itu saya baru saja bekerja di sebuah operator wisata yang menyediakan paket snorkeling, fishing dan mangrove tour.

Kebetulan sekali, lokasi pangkalan boat kami berada cukup jauh dari darat, alias di ujung pelantar panjang yang kira-kira 700 meter dari pesisir pantai desa sungai kecil. Di hari itu juga setelah menerima konfirmasi besok ada jadwal snorkeling, saya langsung bergerak ke sana untuk mencoba memperagakan alat-alat snorkeling sekaligus milih-milih alat mana yang cocok buat saya. Maklum, sudah sangat lama tak menggunakan barang seperti itu, sejak dulu saya lebih suka berenang bebas. Sombong woi...!!!. 

Fin, masker dan snorkel terasa sangat asing menempel di muka dan kaki. Hari itu seperti lelucon, beberapa kali percobaan barulah saya merasa nyaman.

Esok harinya, kira-kira sekitar pukul 12.00 datanglah si tourist. Saya dan Pak Edy Junaedi segera menjemput mereka di Jetty Mangrove Bintan Resorts yang terletak di tepi sungai sebong. Mereka adalah tourist dari India yang ingin menghabiskan hari terakhir liburan mereka di luar hotel. Sebelum snorkeling, ternyata mereka akan melakukan tur mangrove terlebih dahulu, kemudian lanjut makan siang di restoran yang juga satu tempat dengan pangkalan boat kami.

Sekitar 14.30 para tourist telah menyelesaikan tur mangrove dan makan siangnyaSemua peralatan dan perlengkapan snorkeling telah selesai diprepare. Kami pun memulai speaking-speakingan hehe..., lalu briefing sekaligus mengambil peralatan masing-masing dan segera menuju spot. Perjalanan ke sana kira-kira menghabiskan waktu sekitar 30 menit menggunakan speedboat jenis slodang bernama "tenggiri" dengan mesin Yamaha-40 four speed berbahan bakar bensin. 

Di perjalanan boat itu berlari begitu gagah membelah ombak, tentu saja karena dinahkodai boat crew seperti Pak Edy yang sudah sangat lincah dan berpengalaman. Sambil berayun di laut biru kita bisa menikmati pemandangan resort dan hotel berkelas internasional seperti Nirwana Garden, Angsana, BanyanTree dan keindahan Lagoibay Beach Resort, juga kapal-kapal yang melintas di perbatasan Pulau Bintan dan Johor Malaysia. 


" Akhirnya Nyemplung Juga "

On the spot. Sebelum nyebur ke air asin yang kaya habitat ini, saya harus memberikan arahan sekali lagi. Berhubung airnya saat itu sedang dalam proses surut. Sedikit dikhawatirkan jika tourist yang saya bawa menginjak karang, bisa-bisa karangnya hancur dan mereka mengalami luka-luka.

Dari 6 orang tourist hari itu, ada 1 orang yang belum pernah sama sekali berenang di laut. Selain itu ia juga tiba-tiba mengaku tidak begitu mahir berenang, padahal sejak awal katanya sudah biasa. Ternyata biasanya berenang di kolam renang. Ini adalah pelajaran penting buat saya, sebelum berangkat seharusnya sudah benar-benar dipastikan dengan detil apakah mereka sudah biasa snorkeling atau belum.

Awalnya situasi menjadi sedikit sulit karena si tourist satu ini tampak sangat ragu setelah melihat air dan ikan-ikan yang bermain di karang, sementara 5 orang lainnya sudah berenang jauh entah kemana - mana hehehe. Setelah dibujuk-bujuk, ia pun mulai luluh dan untungnya Pak Edy telah terbiasa dengan hal seperti ini. Berbekal life jacket dan ban pelampung yang dibawanya, akhirnya si tourist mau juga nyemplung, tetapi dengan satu syarat harus ada tali. Takut hanyut hehehe....

" Beberapa jepretan saja sudah cukup "

Taken by Edy Junaedy
Saat snorkeling, setiap crew wajib memiliki peran tambahan, apalagi kalau ketemu tourist yang gemar berfoto. Tetapi bagaimana kalau si tourist tidak membawa kamera tahan air (underwater) sementara tour guide sibuk mengawasi tourist lain yang berenang dan sudah basah kuyup?

Satu-satunya orang yang bisa dimintai pertolongan adalah boat crew, jangan ikutan nyebur dulu. Berbekal smartphone sederhana saya mencoba memanfaatkan kepiawaian Pak Edy dalam mengambil gambar dan akhirnya jadi juga dokumentasi ini meskipun hanya beberapa kali jepretan saja. 

Cara seperti ini memang sudah lumrah dilakukan orang dalam setiap kegiatan wisata, dimana si tourist pasti akan meminta bantuan crew atau orang-orang di sekitarnya untuk mengambilkan gambarnya. Jadi, saya harus bilang Thank You Pak Edy sudah menghabiskan waktu hanya berjemur di atas boat demi foto-foto ini.  hehehe....

Snorkeling tanpa mendokumentasikan apa yang kita nikmati di bawah laut memang rasanya banyak yang kurang. Ini bisa menjadi bahan evaluasi tiap operator, khusunya operator lokal yang beroperasi di wilayah ini agar kiranya menyediakan kamera atau setidaknya menginformasikan ke tourist saat menerima reservasi. Jadi mereka bisa mempersiapkannya sendiri. Kasihan jauh-jauh dari india tak ada kenang-kenangan.

Seperti itulah pengalaman snorkeling pertama saya di Pulau Bintan. Cukup menyenangkan dan oke-oke saja tanpa kamera underwater !!!

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar